“the man with the greatest soul will always face the greatest war with the low minded person…”
Suatu ketika, ada sebuah pohon yang rindang di tengah rerumputan yang luas. Dibawahnya, dua orang sedang beristirahat. Rupanya, seorang pedagang dan anaknya yang berteduh disana. Dengan menggelar sehelai tikar. Duduklah mereka dibawah pohon yang besar itu.
“Ayah, aku ingin bertanya…” terdengar suara yang mengusik ambang sadar si pedagang. “Kapan aku besar, Ayah? Kapan aku bisa kuat seperti Ayah, dan bisa membawa dagangan kita ke kota? Sepertinya aku tak akan bisa besar. Tubuhku ramping seperti Ibu, berbeda dengan Ayah yang tegap dan berbadan besar. Kupikir, aku tak akan sanggup memikul dagangan kita jika aku tetap seperti ini.” Sambil menggores-gores sesuatu di atas tanah, anak kecil itu kembali berkata, “Bilakah aku bisa punya tubuh besar sepertimu, Ayah?”
Sang Ayah yang awalnya mengantuk kini tampak siaga. Diambilnya sebuah benih, di atas tanah yang sebelumnya dikais-kais oleh anaknya. Diangkatnya benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benda itu terlihat seperti kacang yang kecil. Kemudian, ia pun berbicara. “Nak, jangan pernah malu dengan tubuhmu yang kecil. Pandanglah pohon yang besar tempat kita berteduh ini, tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini, dulu berasal dari benih yang sekecil ini? Dahan, ranting dan daunnya, juga berasal dari benih yang Ayah pegang ini. Akar-akarnya yang tampak menonjol, juga dari benih ini, juga, sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah, juga berasal dari tempat yang sama.”
“Ketahuilah Nak, benih yang menyimpan segalanya. Benih ini menyimpan batang yang kokoh, dahan yang rindangm daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Dan untuk menjadu sebesar pohon ini, ia hanya membutuhkan angin, air, dan cahaya matahari yang cukup. Namun jangan lupakan waktu yang membuatnya terus bertumbuh. Pada mereka semualah benih ini berterimakasih, karena telah melatihnya menjadi makhluk yang sabar. Suatu saat nanti, kamu juga akan besar, Nak. Jangan pernah takut untuk berharap menjadi besar, karena bisa jadi, itu hanya butuh ketekunan dan kesabaran.”
Jangan pernah malu dengan segala keterbatasan dan ketidaksempurnaan. Karena Tuhan menciptakan kita penuh dengan keistimewaan. Mungkin suatu ketika, kita pernah merasa kecil, tidak mampu, tidak berdaya dengan segala persoalan hidup. Kita mungkin sering bertanya-tanya, kapan kita menjadi besar, dan mampu menggapai semua impian, harapan dan keinginan.
Kita adalah layaknya benih kecil itu. Benih yang menyimpan semua kekuatan dari batang yang kokoh, dahan yang kuat, serta daun-daun yang lebar. Dalam benih itu pula akar-akar yang keras dan menghujam itu berasal. Namun, akankah Tuhan membiarkan benih itu tumbuh besar, tanpa alpa dengan bantuan tiupan angin, derasnya air hujan, dan teriknya sinar matahari? Akankah Tuhan membiarkan kita besar, berhasil, dan sukses, tanpa pernah merasakan ujian dan cobaan?
Jadi, jangan pernah berkecil hati. Semua keberhasilan dan kesuksesan itu telah ada dalam dirimu…