Dec
07

Tentang Dia

Filed Under (Uncategorized) by Ardiansyah Putra Mahamel on 07-12-2008

” Cuma ada dua hal besar dalam hidup ini. Yaitu Cinta dan Kematian. Ketika kita siap menerima keduanya, berarti kita siap menghadapi apa saja..”

Itulah yang ditegaskan dalam sebuah novel Moammar Emka yang bercerita tentang cinta, tentang seseorang, tentang harapan, dan tentang kehilangan, Tentang Dia.

Tentang Dia yang merupakan penjelmaan dari layar lebarnya dan versi panjang dari cerpen karya Melly Goeslaw (Aaargh), karena kami pikir memang itu seperti selayaknya novel percintaan

Kemuraman, itu kesan pertama yang langsung dapat kami tangkap dalam novel ini. Seolah terjerembab ke dalam aura kesuraman semenjak halaman pertama novel ini. Ketika memasuki bagian Siapa Dia? Kami mulai mereka-reka, apa yang terjadi dalam ruang fitness itu, yang dialami oleh seorang Gadis. Setelah itu, dimulai lagi kemuraman-kemuraman yang lebih dititikberatkan kepada tokoh Gadis, yang menarik diri dari pergaulan, diakibatkan masa lalu yang menyakitkan - dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya sendiri - sehingga hatinya tertutup bagai pintu gerbang besi yang dilindungi rantai-rantai kesunyian. Dia hanya sibuk dengan dunianya sendiri, pikiran yang menerawang dan selalu muram. Ini terlihat sekali pada setiap bagian novel. Tiap lembar, tiap adegan selalu menggambarkan dirinya yang suram. Sedang ada beberapa bagian yang menunjukkan saat kebahagiaan menyapa diri Gadis, seperti pada bagian Tentang Kebahagiaan Kecil (Halaman 43),

Menghamba demi Cinta, penghambaan yang kuat juga kami lihat pada tokoh Randu. Tokoh ini begitu mencintai Gadis, padahal Gadis bukan cewek idola, yang terperangkap dalam kemuraman hatinya sendiri sebagai trauma masa lalu. Randu mungkin menurut pandangan banyak orang dianggap sebagai lelaki cengeng, melow, yang selalu terlihat frustasi karena kekecewaan demi kekecewaan yang harus dia telan, akibat selalu ditampiknya dirinya oleh Gadis, karena Gadis merasa bahwa perhatian Randu itu tidak ada artinya apa-apa. (bisa anda lihat di bagian Tentang Cinta Yang Terpendam, halaman 81). Tapi sosok ini cukup manusiawi, karena selama ini kita terperangkap dalam budaya bahwa kaum pria dilarang mengungkapkan emosi, termasuk sedih, kecewa dan sebagainya ke permukaan.

Kenapa manusiawi? Karena pada dasarnya manusia perlu mengungkapkan emosinya secara terbuka, meski dengan cara yang berbeda-beda. Yang hanya Randu lakukan adalah bagaimana cara agar Gadis tidak terus menerus larut dalam duka lara masa silam, meski dia harus berkorban perasaan, rela disakiti dan bahkan mengalami kesedihan yang berkepanjangan berbaur dengan cintanya yang dimata kami sangat dalam, Randu itu pejuang cinta yang tangguh, bersakit-sakit dahulu, barulah cintanya terbalas.

Rudi, seorang wanita perkasa yang bertemu dengan Gadis akibat suatu insiden kecil (Halaman 12) yang akhirnya menjalin pertemanan dengan Gadis.

Salah Interpretasi, mungkin itu yang divonis Gadis terhadap Rudi, yang menganggap aneh perhatian yang diberikan Rudi selama ini kepada Gadis. Semenjak pertemuannya dengan Rudi yang tidak disengaja karena Gadis menabrak Rudi, kehidupan Gadis memang sedikit demi sedikit mulai tercerahkan oleh kehadiran Rudi. Gadis sungguh menyukai Rudi, namun apakah rasa suka itu menjurus kepada lesbianisme sehingga dia sering merasa aneh dengan gerak-gerik Rudi seperti memeluk, atau membelai-belai rambutnya.

Novel ini diakhiri dengan lahirnya harapan baru bagi Gadis, yang dulu kelam, dengan kini seorang pria di sampingnya yang dulu selalu mengejar-ngejar Gadis, Randu. Dan tiada Rudi lagi.

Cerita segar yang agak sedikit berbeda dari yang lain dengan mengambil kehidupan seseorang dengan seseorang, disakiti, kehilangan, masa lalu harapan, yang pertemanan antara wanita dengan wanita.

Cerita Tentang Dia yang mengisahkan hubungan Gadis dan Rudi terkesan tidak jelas alias menimbulkan opini yang berbeda bagi pembaca. Kesan Lesbianisme yang begitu melekat oleh penggambaran gerak-gerik Rudi selama ini, serta naratisasi yang terdapat pada novel seolah memberikan sinyal bahwa Rudi itu lesbi, dia menyukai Gadis.

Sekilas tersirat dalam bagian Tentang Sebuah Kenangan Pahit dan Tentang Prasangka & Kekecewaan (halaman 97), pada penggalan berikut :
” Rudi memandangi foto itu sambil tersenyum. Jemari tangannya mengelus wajah Gadis yang lucu dan cantik itu. Pandangan Rudi begitu penuh arti. Setiap kali menatap wajah Gadis di foto itu, ada perasaan senang terlihat di wajahnya. Tiba-tiba wajah Rudi dipenuhi binar-binar harapan. ” (halaman 66)
(Pada bagian ini, Rudi menyiratkan perasaan senangnya kepada Gadis, tetapi senang seperti apa inilah yang mengambang, apa itu perasaan senang murni sahabat atau lebih? Ini bisa mengundang interpretasi yang macam-macam, termasuk sinyal lesbian tadi)

Namun hal ini seolah tersangkal pada bagian :

“Gadis!” Panggil Rudi dengan suara keras.
“Gue sekarang ngerti maksud lo. Jadi selama ini lo mikir gue lesbi dan suka sama lo gitu ! Pantes lo aneh sama gue.”(halaman 100)
(Disini, Rudi menunjukkan penyangkalan atas prasangka yang dihujatkan Gadis kepadanya)

“Buktiin kalo pikiran gue tentang elo salah. Buktiin kalo lo gak nganggep gue pacar lo!” (halaman 104).
(Terlihat jelas bahwa Gadis masih menyalahartikan kebaikan dan perlindungan Rudi sebagai bentuk lesbianisme)

Namun opini ini seolah runtuh pada bagian penghalusan yang menjelaskan perasaan Rudi sesungguhnya :

“Gue emang sayang ama elo. Buat gue, elo itu pengganti adik gue yang udah meninggal. Gue….. gue …cuma pengen jadi kakak yang benar, sebelum gue mati. Itu aja, Dis..!”

(halaman 121).

Tentang Dia, memang benar adanya, novel ini tidak biasa, meski masih bisa dipahami pembaca. Novel setebal 130 halaman karya Moammar Emka, sang “Penguji Iman” yang didasarkan oleh cerpen pencipta lagu funky Melly Goeslaw ini bukan kisah cinta biasa. Sangat berliku, meski akhirnya berakhir bahagia dengan minim tokoh antagonis, yang juga digambarkan lebih manusiawi ketimbang yang kita lihat di sinetron-sinetron Cinderella Indonesia.

Ending ditunggu-tunggu pembaca karena ketidakbiasaannya, karena akhir cerita yang membuat pembaca pasti berpikir berkali-kali. Kisah yang mengalir juga bukan kisah percintaan ala Telenovela yang hingar bingar, penuh dengan intrik-intrik yang sering tidak masuk akal (ironisnya justru disukai penonton), dan ala Cinderella itu..

Bahasa tutur dengan menggunakan diri sebagai penyambung cerita juga sejujurnya cukup membawa pembaca ke alur kisah, hanya saja kesan yang ditinggalkan setelah membaca novel ini masih belum dalam, hanya seperti mampir makan saja. Namun, secara umum novel ini cukup enak dibaca dengan alur cerita yang dipahami pembaca karena bahasanya yang tidak berbelit serta cocok bagi yang menginginkan ketidakbiasaan.



Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: