“the man with the greatest soul will always face the greatest war with the low minded person…”
Lagi-lagi, gw gak bisa menahan diri untuk tidak merekomendasikan sesuatu yang gw pikir sangat sanagt menarik dan sayang kalo gak di share…Susah memungkiri kekaguman gw dengan novel karya Donny Dirghantoro yang berjudul 5 CM ini..
makasih buat Aldi yang udah ngenalin novel ini dengan gw..Sebenernya kejadiannya gak sengaja sih. Sekitar 2 tahun yang lalu, pada saat kita lagi liburan di bandung dia beli novel ini pas kita lagi belanja di gramedia sana. Sampe di hotel tempat kita nginep gw melihat ada novel dengan cover hitam legam unik dan sangat classy yang seolah-olah memanggil-manggil gw sambil bilang “Ayo dong, baca gw!”… Gw tertarik dengan desain covernya, tapi belum tertarik untuk membacanya. Sampe pada akhirnya gw memutuskan juga untuk baca novel 5 CM itu. Dan gw jatuh cinta….
Novel ini gw banget…
berlembar-lembar, tiap gw baca halaman demi halaman, gw senyum-senyum sendiri kok kayaknya kejadiannya seperti yang selama ini gw alami dan gw bayangkan terjadi pada diri gw, seperti rencana pingin banget naek gunung tapi gak pernah kesampean…becandaannya, pembahasannya, lagu-lagu yang jadi kutipannya…sangat membuat gw seolah-olah berada dalam novel ini…semua kisah yang dideskripsikan, semua perjalanannya, semua karakternya, semua kisah dari masing2 tokoh…
Sangat inspiratif. Satu kata buat novel 5 Cm…dan gw sangat terinspirasi oleh novel ini. Selesai kita baca novel ini seperti ada semangat baru dalam diri kita, yang gak bisa diekpresikan dengan kata-kata…
” Cuma ada dua hal besar dalam hidup ini. Yaitu Cinta dan Kematian. Ketika kita siap menerima keduanya, berarti kita siap menghadapi apa saja..”
Itulah yang ditegaskan dalam sebuah novel Moammar Emka yang bercerita tentang cinta, tentang seseorang, tentang harapan, dan tentang kehilangan, Tentang Dia.
Tentang Dia yang merupakan penjelmaan dari layar lebarnya dan versi panjang dari cerpen karya Melly Goeslaw (Aaargh), karena kami pikir memang itu seperti selayaknya novel percintaan
Kemuraman, itu kesan pertama yang langsung dapat kami tangkap dalam novel ini. Seolah terjerembab ke dalam aura kesuraman semenjak halaman pertama novel ini. Ketika memasuki bagian Siapa Dia? Kami mulai mereka-reka, apa yang terjadi dalam ruang fitness itu, yang dialami oleh seorang Gadis. Setelah itu, dimulai lagi kemuraman-kemuraman yang lebih dititikberatkan kepada tokoh Gadis, yang menarik diri dari pergaulan, diakibatkan masa lalu yang menyakitkan - dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya sendiri - sehingga hatinya tertutup bagai pintu gerbang besi yang dilindungi rantai-rantai kesunyian. Dia hanya sibuk dengan dunianya sendiri, pikiran yang menerawang dan selalu muram. Ini terlihat sekali pada setiap bagian novel. Tiap lembar, tiap adegan selalu menggambarkan dirinya yang suram. Sedang ada beberapa bagian yang menunjukkan saat kebahagiaan menyapa diri Gadis, seperti pada bagian Tentang Kebahagiaan Kecil (Halaman 43),
Menghamba demi Cinta, penghambaan yang kuat juga kami lihat pada tokoh Randu. Tokoh ini begitu mencintai Gadis, padahal Gadis bukan cewek idola, yang terperangkap dalam kemuraman hatinya sendiri sebagai trauma masa lalu. Randu mungkin menurut pandangan banyak orang dianggap sebagai lelaki cengeng, melow, yang selalu terlihat frustasi karena kekecewaan demi kekecewaan yang harus dia telan, akibat selalu ditampiknya dirinya oleh Gadis, karena Gadis merasa bahwa perhatian Randu itu tidak ada artinya apa-apa. (bisa anda lihat di bagian Tentang Cinta Yang Terpendam, halaman 81). Tapi sosok ini cukup manusiawi, karena selama ini kita terperangkap dalam budaya bahwa kaum pria dilarang mengungkapkan emosi, termasuk sedih, kecewa dan sebagainya ke permukaan.
Kenapa manusiawi? Karena pada dasarnya manusia perlu mengungkapkan emosinya secara terbuka, meski dengan cara yang berbeda-beda. Yang hanya Randu lakukan adalah bagaimana cara agar Gadis tidak terus menerus larut dalam duka lara masa silam, meski dia harus berkorban perasaan, rela disakiti dan bahkan mengalami kesedihan yang berkepanjangan berbaur dengan cintanya yang dimata kami sangat dalam, Randu itu pejuang cinta yang tangguh, bersakit-sakit dahulu, barulah cintanya terbalas.
Rudi, seorang wanita perkasa yang bertemu dengan Gadis akibat suatu insiden kecil (Halaman 12) yang akhirnya menjalin pertemanan dengan Gadis.
Salah Interpretasi, mungkin itu yang divonis Gadis terhadap Rudi, yang menganggap aneh perhatian yang diberikan Rudi selama ini kepada Gadis. Semenjak pertemuannya dengan Rudi yang tidak disengaja karena Gadis menabrak Rudi, kehidupan Gadis memang sedikit demi sedikit mulai tercerahkan oleh kehadiran Rudi. Gadis sungguh menyukai Rudi, namun apakah rasa suka itu menjurus kepada lesbianisme sehingga dia sering merasa aneh dengan gerak-gerik Rudi seperti memeluk, atau membelai-belai rambutnya.
Novel ini diakhiri dengan lahirnya harapan baru bagi Gadis, yang dulu kelam, dengan kini seorang pria di sampingnya yang dulu selalu mengejar-ngejar Gadis, Randu. Dan tiada Rudi lagi.
Cerita segar yang agak sedikit berbeda dari yang lain dengan mengambil kehidupan seseorang dengan seseorang, disakiti, kehilangan, masa lalu harapan, yang pertemanan antara wanita dengan wanita.
Cerita Tentang Dia yang mengisahkan hubungan Gadis dan Rudi terkesan tidak jelas alias menimbulkan opini yang berbeda bagi pembaca. Kesan Lesbianisme yang begitu melekat oleh penggambaran gerak-gerik Rudi selama ini, serta naratisasi yang terdapat pada novel seolah memberikan sinyal bahwa Rudi itu lesbi, dia menyukai Gadis.
Sekilas tersirat dalam bagian Tentang Sebuah Kenangan Pahit dan Tentang Prasangka & Kekecewaan (halaman 97), pada penggalan berikut :
” Rudi memandangi foto itu sambil tersenyum. Jemari tangannya mengelus wajah Gadis yang lucu dan cantik itu. Pandangan Rudi begitu penuh arti. Setiap kali menatap wajah Gadis di foto itu, ada perasaan senang terlihat di wajahnya. Tiba-tiba wajah Rudi dipenuhi binar-binar harapan. ” (halaman 66)
(Pada bagian ini, Rudi menyiratkan perasaan senangnya kepada Gadis, tetapi senang seperti apa inilah yang mengambang, apa itu perasaan senang murni sahabat atau lebih? Ini bisa mengundang interpretasi yang macam-macam, termasuk sinyal lesbian tadi)
Namun hal ini seolah tersangkal pada bagian :
“Gadis!” Panggil Rudi dengan suara keras.
“Gue sekarang ngerti maksud lo. Jadi selama ini lo mikir gue lesbi dan suka sama lo gitu ! Pantes lo aneh sama gue.”(halaman 100)
(Disini, Rudi menunjukkan penyangkalan atas prasangka yang dihujatkan Gadis kepadanya)
“Buktiin kalo pikiran gue tentang elo salah. Buktiin kalo lo gak nganggep gue pacar lo!” (halaman 104).
(Terlihat jelas bahwa Gadis masih menyalahartikan kebaikan dan perlindungan Rudi sebagai bentuk lesbianisme)
Namun opini ini seolah runtuh pada bagian penghalusan yang menjelaskan perasaan Rudi sesungguhnya :
“Gue emang sayang ama elo. Buat gue, elo itu pengganti adik gue yang udah meninggal. Gue….. gue …cuma pengen jadi kakak yang benar, sebelum gue mati. Itu aja, Dis..!”
(halaman 121).
Tentang Dia, memang benar adanya, novel ini tidak biasa, meski masih bisa dipahami pembaca. Novel setebal 130 halaman karya Moammar Emka, sang “Penguji Iman” yang didasarkan oleh cerpen pencipta lagu funky Melly Goeslaw ini bukan kisah cinta biasa. Sangat berliku, meski akhirnya berakhir bahagia dengan minim tokoh antagonis, yang juga digambarkan lebih manusiawi ketimbang yang kita lihat di sinetron-sinetron Cinderella Indonesia.
Ending ditunggu-tunggu pembaca karena ketidakbiasaannya, karena akhir cerita yang membuat pembaca pasti berpikir berkali-kali. Kisah yang mengalir juga bukan kisah percintaan ala Telenovela yang hingar bingar, penuh dengan intrik-intrik yang sering tidak masuk akal (ironisnya justru disukai penonton), dan ala Cinderella itu..
Bahasa tutur dengan menggunakan diri sebagai penyambung cerita juga sejujurnya cukup membawa pembaca ke alur kisah, hanya saja kesan yang ditinggalkan setelah membaca novel ini masih belum dalam, hanya seperti mampir makan saja. Namun, secara umum novel ini cukup enak dibaca dengan alur cerita yang dipahami pembaca karena bahasanya yang tidak berbelit serta cocok bagi yang menginginkan ketidakbiasaan.
YANG TAK TERLUPAKAN
Sebuah film tentang kenangan..
Tentang teman…
Tentang sahabat..
Yang tak kan pernah terlupakan…
if we’re talking about the most unforgetable moment in life, I do believe that most of you have the the similar answer, yaitu masa-masa di sekolah. Ya kalo boleh ngutip sedikit lirik lagunya almarhum Chrisye, “kisah-kasih di sekolah, takkan terlupa, kisah-kasih di sekolah, dengan dirinya, masa-masa paling indah, masa-masa di sekolah, tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah….”
Hahaha, pasti banyak diantara kita memiliki pengalaman yang gak terlupakan saat-saat si sekolah, ntah itu di sekolah dasar, menengah, dan sekolah menengah atas alias SMA.
Bagi gw sendiri, semua bagian itu memiliki kisah unik tersendiri, every part has the greatest memories which make me grow up better. Every strory was very amazing that I’ll never forget those kinds of moments..
Saat-saat ajaib yang gak pernah kita lupakan itu adalah saat dimana kita berada dalam tahap menuju kedewasaan, dimana kita bertransisi dari anak-anak menjadi remaja, remaja menjadi dewasa, dan seterusnya dan seterusnya. Memang semua itu cuma predikat, tapi itulah yang pernah menjadi identitas diri kita. Then we can change from a person, to be somebody.
Yang Tak Terlupakan sendiri, lahir dari hasil pikir gw dan temen2 gw di SMA, tepatnya kelas 12 IPS 1. Saat itu gw sekolah di SMAN 9 Bandar Lampung, sekolah yang selalu membranding dirinya sebagai sekolah internasional di lampung. Walau bisa dibilang masih sangat-sangat pemula dan amatir, tapi kita sangat bangga atas apa yang sudah kita buat, apa yang sudah kita ciptakan sama-sama.
Prosesnya pun sangat panjang, sempet udah scenario beberapa kali, ampe scene yang harus didelete karna durasinya yang kepanjangan. Hahaha, it was realy amazing akhirnya film ini bisa selesai dan diputer di Aula sekolah gw pada saat hari H pemutarannya. For God’s Shake also, respon dari temen2 juga luar biasa, banyak yang terharu nonton film ini, malah ada sedikit orang yang nangis. Hahaha..great ! merupakan kepuasan tersendiri ketika apa yang kita ciptakan mendapatkan apresiasi tersendiri dari orang lain.. yah, walaupun masih banyak kekurangan disana-sini, tapi paling gak, kita udah berhasil merangkum kisah-kisah yang umum terjadi di sekolah, seperti kacaunya keadaan kelas saat gak ada guru, cabut bareng, terlambat, cemasnya kita saat ujian akhir, saat pengumuman dan kelulusan, semuanya dikemas jadi satu di film ini menjadi cerita yang memang gak akan pernah bisa dilupakan, Karena memang film ini adalah “Yang Tak Terlupakan”…
i want to retell u again, just kinds of recommendation.
film ini judulnya “If Only”, film produksi tahun 2004 ini berkisah tentang Samantha (Jenifer Love Hewitt) seorang mahasiswa Amerika yang sekolah musik di London. Amy tewas dalam sebuah kecelakaan. Padahal sebelumnya ia bertengkar hebat, bahkan hampir putus, dengan kekasihnya Ian Wyndham (Paul Nicholls).
Ian seorang pengusaha yang sangat sibuk. Dan saat kehilangan Samantha, dia baru menyadari cintanya yang begitu besar pada Samantha. Sampai suatu saat sebuah hal yang mungkin masuk akal mungkin tidak, such a dejavu, or i don’t know what, ia diberi kesempatan untuk dapat memperbaiki keadaan, semua yang sebelumnya terjadi sepintas hanya seperti firasat. akhirnya, Ian yang sangat sedih dan berduka memutuskan untuk tinggal di London, mencoba untuk mengulang kembali semuanya dan berharap dapat menghindarkan Samantha dari kematian..Ia memutar balik dan memperbaiki apa yang seharusnya ia lakukan untuk dapat mencintai samantha lebih seperti yang ia rasakan dan sam harapkan..
it’s really touching, film ini bener2 menyentuh dan sangat dramatic. Semua yang terjadi, adegan per adegan. This is one of the great movie in world. Absolutely teach us how to love someone, like there is no day tomorrow….
Suatu ketika, ada sebuah pohon yang rindang di tengah rerumputan yang luas. Dibawahnya, dua orang sedang beristirahat. Rupanya, seorang pedagang dan anaknya yang berteduh disana. Dengan menggelar sehelai tikar. Duduklah mereka dibawah pohon yang besar itu.
“Ayah, aku ingin bertanya…” terdengar suara yang mengusik ambang sadar si pedagang. “Kapan aku besar, Ayah? Kapan aku bisa kuat seperti Ayah, dan bisa membawa dagangan kita ke kota? Sepertinya aku tak akan bisa besar. Tubuhku ramping seperti Ibu, berbeda dengan Ayah yang tegap dan berbadan besar. Kupikir, aku tak akan sanggup memikul dagangan kita jika aku tetap seperti ini.” Sambil menggores-gores sesuatu di atas tanah, anak kecil itu kembali berkata, “Bilakah aku bisa punya tubuh besar sepertimu, Ayah?”
Sang Ayah yang awalnya mengantuk kini tampak siaga. Diambilnya sebuah benih, di atas tanah yang sebelumnya dikais-kais oleh anaknya. Diangkatnya benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benda itu terlihat seperti kacang yang kecil. Kemudian, ia pun berbicara. “Nak, jangan pernah malu dengan tubuhmu yang kecil. Pandanglah pohon yang besar tempat kita berteduh ini, tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini, dulu berasal dari benih yang sekecil ini? Dahan, ranting dan daunnya, juga berasal dari benih yang Ayah pegang ini. Akar-akarnya yang tampak menonjol, juga dari benih ini, juga, sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah, juga berasal dari tempat yang sama.”
“Ketahuilah Nak, benih yang menyimpan segalanya. Benih ini menyimpan batang yang kokoh, dahan yang rindangm daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Dan untuk menjadu sebesar pohon ini, ia hanya membutuhkan angin, air, dan cahaya matahari yang cukup. Namun jangan lupakan waktu yang membuatnya terus bertumbuh. Pada mereka semualah benih ini berterimakasih, karena telah melatihnya menjadi makhluk yang sabar. Suatu saat nanti, kamu juga akan besar, Nak. Jangan pernah takut untuk berharap menjadi besar, karena bisa jadi, itu hanya butuh ketekunan dan kesabaran.”
Jangan pernah malu dengan segala keterbatasan dan ketidaksempurnaan. Karena Tuhan menciptakan kita penuh dengan keistimewaan. Mungkin suatu ketika, kita pernah merasa kecil, tidak mampu, tidak berdaya dengan segala persoalan hidup. Kita mungkin sering bertanya-tanya, kapan kita menjadi besar, dan mampu menggapai semua impian, harapan dan keinginan.
Kita adalah layaknya benih kecil itu. Benih yang menyimpan semua kekuatan dari batang yang kokoh, dahan yang kuat, serta daun-daun yang lebar. Dalam benih itu pula akar-akar yang keras dan menghujam itu berasal. Namun, akankah Tuhan membiarkan benih itu tumbuh besar, tanpa alpa dengan bantuan tiupan angin, derasnya air hujan, dan teriknya sinar matahari? Akankah Tuhan membiarkan kita besar, berhasil, dan sukses, tanpa pernah merasakan ujian dan cobaan?
Jadi, jangan pernah berkecil hati. Semua keberhasilan dan kesuksesan itu telah ada dalam dirimu…